Satu Malam Tanpa Akhir
Teks. Edo Wallad
Ada satu malam yang kuharap tidak akan pernah berakhir. Seperti malam ini. Tertidur bersamamu, di bawah naungan hanya malam. Rasanya malam ini tidak ada yang hilang, maka tidak ada pula yang perlu ditemukan. Aku menatapmu yang sudah tertidur. Mungkin ini sebenarnya adalah kelakuan yang harusnya dilakukan seorang perempuan kepada lelaki ketika si lelaki tetidur lebih dulu. Tapi dalam kasus bersamamu, aku tidak menolak untuk bertukar peran menjadi perempuan. Karena aku tidak mau kehilangan satu momen pun bersamamu. Apalagi malam ini.
Aku tidak mau membangunkanmu, lagipula bulan dan si bintang utara yang paling terang sudah cukup menemaniku, menikmatimu.
Aku ingin menghapal setiap lekuk wajahmu. Ingin kurekam semua sudut yang membentuk dirimu di ingatanku. Aku rasa bukan dirimu saja yang sempurna malam ini, tapi juga udara dan angin yang bertiup.
Kau bergerak sedikit. Hanya sebentar. Sepertinya tubuhmu menggigil kedinginan. Kututupi badanmu yang mungil dengan mantelku. Tertidur di taman di malam hari tentu saja dingin. Keberanikan tanganku mendekapmu. Lagi-lagi kau bergerak sedikit. Kutopang kepalaku dengan tangan yang lain. Aku tidak mau tertidur. Aku mau menikmatimu malam ini. Satu kegilaan untuk lari dari keramaian kota dan berakhir di sebuah taman tepian kolam adalah ide yang brilian.
Aku bisa saja mengajakmu untuk menghabiskan malam di penginapan. Tapi kejadian justru yang kualami sekarang ini adalah kejadian yang langka. Dan tidak bisa terbayar dengan harga apapun di dunia ini. Aku bisa mengabaikan semua kedinginan yang menyelimutiku. Karena kontras, justru hatiku sedang membara. Ini adalah saat di mana aku tidak perlu lagi menggapaimu, karena aku sudah berada di sana.
Aku tahu esok hari akan jadi hal yang berbeda lagi. Aku tahu aku akan merindukanmu. Tapi tunggu dulu, aku belum mau memikirkan itu. Lagipula aku belum ingin malam ini berakhir. Dan apalah arti sebuah akhir selain dari permulaan yang baru. Seperti ketika kau berjalan di satu daratan dan sampai ke tepian, maka kau akan menemukan laut. Dan itu bukanlah akhir dari segalanya. Itu hanya akan menjadi perjalanan baru yang lain ketika kau harus menyeberangi lautan dengan sampan kemudian menemukan pantai lalu ke tepian daratan lagi, demikian seterusnya.
Ada satu malam yang kuharap tidak akan pernah berakhir. Seperti malam ini. Tertidur bersamamu, di bawah naungan hanya malam. Rasanya malam ini tidak ada yang hilang, maka tidak ada yang perlu ditemukan. Aku menatapmu yang sudah tertidur.Lalu mengecupmu.
Di dahi.
Setelah nonton Dororo dan mendengar sealbum in ghost colours dari cut copy